KEJUJURAN PINTU KEMULIAAN (MAKNA IEDUL FITRI 1432 H)

allahu Akbar 3 X Allah Maha Besar, Allah Maha Agung, dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan petang, siang maupun malam,   baik di masa silam, masa kini, dan masa yang akan datang.

Segala puji bagi Allah, Zat yang telah menjadikan Hari Raya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Dengan Idul Fitri, Allah telah menutup bulan Ramadhan 1432 H, bulan suci bagi hamba-hamba-Nya yang berpuasa dengan penuh Keimanan dan Penuh keikhlasan.

Aku bersaksi bahwa, tiada Tuhan yang patut  disembah, dengan sebenarnya kecuali Allah, dZat yang tiada sekutu bagi-Nya. Kesaksian ini akan membersihkan hati kita dari segala tipuan, BUJUKAN  dan rayuan yang mencelakakan. dan Aku bersaksi pula bahwa Muhammad itu adalah hamba dan Rasul-Nya, seorang makhluk terbaik, dan yang paling taat kepada Allah Rabbul ‘Alamin. Ya Allah, limpahkanlah rahmat, karunia, dan keberkahan-Mu kepada Nabiyyuna  Muhammad Saw. kepada keluarganya dan kepada segenap sahabatnya yang telah menghabiskan seluruh hidupnya dengan berjuang menegakkan agama-Mu.termasuk Ummat – ummatnya

Saudara-saudara kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia.

Pagi yang sejuk, penuh rahmat, penuh berkah, penuh kebersamaan dan kegembiraan ini, marilah kita dengan tidak pernah merasa bosan untuk memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT. Yang telah memberikan nikmat dan kekuatan, sehingga pagi ini kita bisa berkumpul bersama dengan penuh kegembiraan,   Kita bergembira karena telah lulus dari ujian yang sangat berat, yakni mengendalikan nafsu sebulan penuh lamanya. Kegembiraan ini   dirasakan khusus bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa dengan penuh keimanan serta Keikhlasan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

lewat mimbar yang penuh Rahmat  dan penuh kegembiraan ini,  saya  akan   mengambil   tema !

KEJUJURAN PINTU KEMULIAYAAN

Sering Kita hanya bisa berandai – andai,  Andaikan Pemimpinku Jujur !

Tetapi kita sendiri tidak pernah berupaya Bagaimana untuk  jujur ?

Jujur adalah keselarasan antara berita dengan kenyataan . Jadi, suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar / jujur, tetapi, kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan dari batinnya. Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah,  secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi, tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Dia membuat ritual – ritual yang dikemas dengan bahasa Islam/agama, padahal Allah & Rasulullah Muhammad SAW. tidak pernah mencontohkannya.

Yang jelas, kejujuran sifatnya orang yang beriman,  dan dusta merupakan sifat orang yang munafik.

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَ ا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga perkara, yaitu apabila berbicara dia dusta, apabila berjanji dia ingkiri dan apabila diberi amanah dia mengkhianati.” (HR. Bukhari, Kitab-Iman: 32) H.R. oleh Abu Hurairah

Jujur adalah sebuah  ungkapan yang sangat mudah kita ucapkan, tapi sulit untuk dilaksanakan, kejujuran adalah perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun mu’amalah,  di mana yang berkaitan dengan Mu’ammalah  ini, memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli, utang-piutang, sumpah, dan sebagainya.

Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikannya balasan yang berlimpah untuk mereka. Termasuk dalam jujur kepada Allah, jujur dengan sesama  dan  jujur kepada diri sendiri.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilham.

Definisi Jujur.

Imam Ibnul Qayyim berkata,  Iman  asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan,  melainkan akan saling bertentangan satu sama lain.

Allah mengabarkan bahwa, tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba pendusta,  dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya).

Allah berfirman dalam surat Al Maidah ayat 119.

Allah berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfa’at bagi orang-orang yang benar, kebenaran Bagi mereka, surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya . Itulah keberuntungan yang paling besar”.

 “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad),  dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zumar: 33)

 

 

 

Adapun Keutamaan Jujur adalah :

sebagaimana dijelaskan oleh Nabi, bahwa“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.”

Jaman sekarang, jaman Edan, sing gak Edan gak Keduman, sopo sing bakale slamet yoiku wong sing kang eling lan kang waspodho

Dandang diunekne kunthul, kunthul diunekne dandang.

Sungguh luar biasa kondisi Bangsa saat ini, berapa banyak Pemimpin – pemimpin Kita Korupsi merajalela, Korupsi berjama’ah trilyunan rupiah untuk kepentingan pribadi & untuk kepentingan keluarga besarnya, setiap hari kita tidak bisa menghindar dari technologi informasi, sehingga mata kita melihat, telinga kita mendengar dan hati kita merasa, dan berandai – andai,

ANDAIKAN PEMIMPIKU JUJUR  !!!!

Rasulullah mencontohkan perilaku mulia dalam bermu’amalah, sebagaimana disitir dalam hadist yang diriwayatkan dari Hakim bin Hizam dari Nabi, beliau bersabda,

“Penjual dan pembeli diberi kesempatan berfikir selagi mereka belum berpisah. Seandainya mereka jujur serta membuat penjelasan mengenai barang yang diperjualbelikan, mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Sebaliknya, jika mereka menipu dan merahasiakan mengenai apa-apa yang harus diterangkan tentang barang yang diperjualbelikan, maka akan terhapus keberkahannya.”

Asbabul wurud ini, ketika rasulullah pergi ke Pasar melihat bahwa ada penjual Kurma yang mencampur Kurma kwalitas baik dan kurma kwalitas jelek.

Dalam kehidupan sehari-hari, merupakan bukti yang nyata kita dapati seorang yang jujur dalam bermuamalah dengan orang lain, rezekinya lancar-lancar saja, jaminannya orang lain berlomba-lomba datang untuk bermuamalah dengannya, karena merasa tenang bersamanya, dan ikut mendapatkan kemulian,      maka sempurnalah baginya kebahagian dunia dan akherat.

Tidaklah kita dapati seorang yang jujur, melainkan orang lain senang bergaul dengannya, orang lain memujinya.                Berbeda dengan pendusta. Temannya sendiripun tidak merasa aman, apalagi musuh atau lawannya. Alangkah indahnya ucapan seorang yang jujur, pemimpin – pemimpin  yang jujur, rakyat yang jujur dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta.

Memang Menyampaikan kebenaran itu pahit kulil haqqo walau kana murron

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilham.

Firman Allah SWT.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. at-Taubah: 119)

 

Adapun Macam-Macam Kejujuran adalah :

Jujur dalam niat dan kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia, maka akan merusakkan kejujuran niat, dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta, sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah, yaitu seorang mujahid, seorang qari’, dan seorang dermawan. Allah menilai  ketiganya telah berdusta, karena bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka.

Jujur dalam ucapan. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya, tidak berkata kecuali dengan benar . Benar  dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran.

Jujur dalam tekad dan memenuhi janji. Contohnya seperti ucapan seseorang, “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta, aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah.” Maka yang seperti ini adalah tekad. ( nadzar ) Terkadang benar, tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. Kasus seperti ini sudah disinggung Allah dalam surat al – Ahzab :
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu ( dikeluarkan atau tidak )  dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (QS. al-Ahzab: 23)

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman,

Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. [9:75] 

 

9:76] Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).

Jujur dalam perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin, sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif, “Jika sama, antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya, maka Allah akan berfirman, ‘Inilah hambaku yang benar.’”

Jujur dalam kedudukan agama. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi, sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan, dalam rasa cinta dan tawakkal. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat, dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur, sebagaimana firman Allah,

 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15)

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilham.

Khatimah

Orang yang selalu berbuat kebenaran dan kejujuran, niscaya ucapan, perbuatan, dan keadaannya selalu menunjukkan hal tersebut. Allah telah memerintahkan Nabi untuk memohon kepada-Nya agar menjadikan setiap langkahnya berada di atas kebenaran sebagaimana firman Allah,

“Dan katakanlah (wahai Muhammad), ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.” (QS. al-Isra’: 80)

Allah juga mengabarkan tentang Nabi Ibrahim yang memohon kepada-Nya untuk dijadikan buah tutur yang baik. bagi orang-orang (yang datang) kemudian  ( QS. asy-Syu’ara’: 84 )

 “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintai kepada karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 177)

Yang membedakan mukmin (orang yang beriman) dan munafik (orang munafik) diantara keduanya adalah kejujuran dan kebenaran atas keyakinannya.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilham.

Bahaya kedustaan sangatlah besar, dan siksa yang diakibatkannya amatlah dahsyat, maka wajib bagi kita untuk selalu jujur dalam ucapan, perbuatan, dan muamalah kita. Dengan demikian jika kita senantiasa menjauhi kedustaan, niscaya kita akan mendapatkan pahala & Ridho dari Allah SWT.

Mudah – mudahan apa yang saya sampaikan ini bermanfaat untuk pribadi saya, keluarga saya khususnya, serta jama’ah sholat iedul fitri ini pada umumnya.

Dan mari kita berdoa kepada Allah SWT. Semoga Pemimipin – Pemimpin  kita segera bermuhasabah untuk menjadi Pemimpin yang Jujur, dan juga kita agar menjadi masyarakat yang jujur pula. Sebagai perwujudan kawah condrodimuko dibulan suci Romadhon. Dengan harapan amal Ibadah setelah romadhon ini, kita  bisa lebih baik, lebih baik dan lebih baik agar Negara Indonesia tercinta kita menjadi Negara yang baldatun Thoybatun warobbun ghofur,

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

  1. I.                     Disampaikan dalam khutbah iedul fitri 1432 H.

Oleh soegeng Mawardi

MANAGER TELECENTER MOJOPAHIT

Iklan

About mojopahittelecenter

organisasi pemberdayaan masyarakat

Posted on 28 Agustus 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: